File audio dapat diputar dan diunduh | File naskah hanya dapat dilihat
Klik teks yang berada pada kotak biru untuk membuka tautan di tab baru, kemudian Anda dapat memutar, mengunduh, atau melihat file tersebut.
Sadar-Penuh Hadapi Perubahan Iklim
- Audio Iklim 1
Download “Audio Iklim 1” Iklim-1-IND.mp3 – Downloaded 17 times – 34 MB
- Naskah Iklim 1
Kita luangkan waktu sejenak untuk sekadar menyatu dengan tubuh dalam posisi duduk.
We take a moment to just be with the body in the sitting posture.
Hanya membiarkan diri di sini dan saat ini.
Just settling into the here and now.
Dan kita menyadari tubuh dalam posisi duduk.
And we are aware of the body in the sitting posture.
Kita membiarkan pikiran beristirahat pada tubuh, sebagaimana tubuh beristirahat di atas bantal.
And we let the mind rest on the body, just as the body rests on the cushion.
Tanpa kehilangan kehadiran pikiran ini, kita sekarang akan lanjut melakukan eksplorasi dengan merenungkan elemen tanah—prinsip kepadatan, soliditas—dengan bantuan teknik pindai tubuh.
And, without losing this embodied presence of the mind, we will now proceed to explore contemplation of the earth element-the principle of solidity, hardness-with the help of a body scan.
Bertahap, dari kepala hingga kaki, dengan pemahaman bahwa kita tidak perlu bersusah payah, berjuang, untuk merasakan kepadatan di setiap bagian tubuh. Cukuplah sekadar menyadari suatu bagian tubuh dan mengetahui seolah tanpa usaha bahwa ada kepadatan, suatu elemen tanah.
Proceeding gradually, from head to the feet, in the understanding that there is no need for us to strive, struggle, to distinctly sense solidity in each and every part of the body. It is enough for our purposes to just be aware of a part of the body and know that there is solidity, some earth element.
Dimulai dengan kepala. Kita menyadari area kepala, dengan pemahaman bahwa ada kepadatan di sini, suatu soliditas. Dan, jika kita mau, sejenak saja, kita bisa menggertakkan gigi, lalu rileks. Hanya untuk merasakan, sekilas, rasa kerasnya. Dan kemudian menyadari bahwa tingkat kepadatan tertentu, unsur tanah tersebut, ditemukan di seluruh kepala. Entah kita merasakannya secara jelas atau tidak, kepadatan itu ditemukan di seluruh kepala. Unsur tanah.
Starting with the head. We are aware of the head area, with the understanding that there is some solidity in here, some hardness. And, if we wish, just for a moment, we may grit our teeth, and then relax. Just to have, for a moment, that felt sense of hardness. And then being aware that some degree of such hardness, such earth element, is found throughout the whole head. Whether we sense it distinctively or not, it is found throughout the whole head. Earth element.
Dan dari kepala, kita beralih ke leher, menyadari area leher, mengetahui bahwa ada unsur tanah di bagian tubuh ini.
And from the head, we shift to the neck, aware of the neck area, knowing that there is earth element in this part of the body.
Dan dari leher ke salah satu bahu—kiri atau kanan, tidak masalah. Cukup pilih satu bahu, sadari bahu itu, dengan pemahaman bahwa ada unsur tanah di bagian tubuh ini.
And from the neck to one shoulder-left or right, it does not matter. Just choosing one shoulder, being aware of that shoulder, in the understanding that there is some earth element in this part of the body.
Kemudian dari bahu itu ke lengan atas: unsur tanah.
And from that shoulder to the upper arm: earth element.
Lengan bawah: unsur tanah.
The lower arm: earth element.
Lalu tangan: unsur tanah.
And the hand: earth element.
Sekarang kita dapat mengalihkan perhatian kita ke bahu yang lain. Menyadari bagian tubuh itu, dengan pemahaman bahwa ada unsur tanah, suatu kesolidan, kepadatan.
Now we can shift our attention to the other shoulder. Aware of that part of the body, with the understanding that there is some earth element, some solidity, hardness.
Dari bahu itu ke lengan atas: elemen tanah.
And from that shoulder to the corresponding upper arm: earth element.
Lengan bawah: elemen tanah.
The lower arm: earth element.
Dan tangan: elemen tanah
And the hand: earth element
Sekarang kita mengalihkan perhatian ke bagian atas tubuh. Bagian atas tubuh: sadari bagian tubuh ini, dengan pemahaman bahwa ada elemen tanah.
And now shifting attention to the upper half of the torso. Upper half of the torso: aware of this part of the body, in the understanding that there is some earth element.
Dari bagian atas ke bagian bawah tubuh. Bagian bawah tubuh: sadari bagian tubuh ini, dengan pemahaman bahwa ada elemen tanah.
And from the upper half to the lower half of the torso. The lower half of the torso: aware of this part of the body, in the understanding that there is some earth element.
Dari bagian bawah tubuh ke salah satu pinggul. Kiri atau kanan—tidak masalah, cukup pilih salah satu pinggul. Sadari bagian tubuh itu, dengan pemahaman bahwa ada elemen tanah.
From the lower half of the torso to one hip. Left or right-it does not matter, just choosing one hip. Aware of that part of the body, knowing that there is earth element.
Dari pinggul ke paha atas: elemen tanah.
From the hip to the upper leg: earth element.
Paha bawah: elemen tanah.
Lower leg: earth element.
Dan telapak kaki: elemen tanah.
And the foot: earth element.
Mengalihkan perhatian ke pinggul yang lain, sadari bagian tubuh ini, dengan pemahaman bahwa ada elemen tanah. Kualitas soliditas, kekokohan.
Shifting attention to the other hip, aware of this part of the body, with the understanding that there is some earth element. That quality of hardness, solidity.
Dan dari pinggul hingga kaki bagian atas: elemen tanah.
And from the hip to the upper leg: earth element.
Kaki bagian bawah: elemen tanah.
The lower leg: earth element.
Kaki: elemen tanah.
And the foot: earth element.
Menyadari seluruh tubuh ini dalam posisi duduk, sebagaimana diresapi oleh elemen tanah.
And being aware of this whole body in the sitting posture, as pervaded by the earth element.
Menyadari tubuh dalam posisi duduk, kita juga dapat merasakan elemen tanah eksternal. Di mana pun tubuh menyentuh tanah—bantal, kursi—kita dapat merasakan kekokohan itu: elemen tanah eksternal.
And being aware of the body in the sitting posture, we can also sense the external earth element. Wherever the body touches the ground-the cushion, the chair-we can sense that solidity: the external earth element.
Kita dapat merasakan hubungan kita dengan elemen tanah eksternal melalui rasa gravitasi.
And we can sense our connection to the external earth element through the sense of gravity.
Dan dengan menyadari rasa gravitasi itu, kita membiarkan tubuh kita rileks dalam rasa gravitasi itu. Melepaskan ketegangan apa pun dalam tubuh. Membiarkannya meresap ke dalam tanah. Semua kekhawatiran dan rasa cemas kita: membiarkan mereka meresap ke dalam tanah.
And becoming aware of that sense of gravity, we allow our body to relax into that sense of gravity. Letting go of any tension in the body. Letting it sink into the ground. All our worries, concerns: letting them just sink into the ground.
Mengalami kelegaan dan kedamaian dari relaksasi tubuh, dalam kesadaran akan hubungan kita dengan bumi—bumi eksternal—melalui rasa gravitasi.
Experiencing that ease and peacefulness of the relaxation of the body, in the awareness of our connection with the earth-the external earth-through that sense of gravity.
Dan dengan kesinambungan kesadaran akan seluruh tubuh, dan kekokohan di sebelah bawah, kita kini memperluas persepsi kita terhadap dunia luar. Memperluasnya dengan menyadari bahwa kekokohan di bawah kita ini meluas ke segala arah.
And with the continuity of awareness of the whole body, and the solidity below, we now expand our perception of the external. Expanding it by becoming aware that this solidity below us extends in all directions
Dimulai dari depan. Menyadari bahwa kekokohan yang terasa di bawah kita ini meluas hingga ke arah depan, jauh hingga ke kejauhan: elemen tanah, elemen tanah eksternal. Sejauh apa pun kita menelusurinya, kita tak dapat menemukan titik akhirnya.
Beginning with the front. Aware that this felt solidity beneath us extends all the way out in the front direction, way out into the far away distance: earth element, external earth element. However far we follow it, we cannot find an ending point.
Dan dari depan, kita bergerak secara bertahap ke sisi kanan, terus-menerus menyadari keluasan elemen tanah eksternal ini. Kita terus bergerak dari kanan, secara bertahap, menuju belakang. Dan dari belakang ke kiri. Dan akhirnya tiba dalam lingkaran lagi di depan.
And from the front we move gradually over to the right side, continuously aware of this expansiveness of the external earth element. And we continue moving from the right, gradually, towards the back. And from the back to the left. And eventually arriving in a circle again in the front.
Setelah menempuh segala arah, kita menyadari keluasan bumi ke segala arah, menyadari seluruh planet Bumi tempat kita duduk: elemen tanah eksternal, planet Bumi.
Having covered all directions, we are aware of the expansiveness of earth in all directions, aware of this whole planet Earth on which we are seated: the external earth element, the planet Earth.
Namun, kita tidak hanya duduk kokoh di planet Bumi ini, merasakan gravitasinya, tubuh kita juga terus-menerus bertukar tempat dengan planet Bumi: melalui makanan yang kita makan, menyerap unsur tanah dalam bentuk makanan; menyerap unsur air dalam bentuk minuman; menyerap unsur api dalam bentuk suhu luar, dan menyerap unsur angin, prinsip gerak, dalam bentuk pernapasan.
And we are not only firmly seated on this planet Earth sensing its gravity, our body is in constant exchange with the planet Earth: through the food we eat, taking in earth element in the form of food; taking in water element in the form of beverage; taking in fire element in the form of outside temperature, and taking in wind element, the principle of motion, in the form of breathing.
Dalam pengalaman seluruh tubuh ini, yang duduk di planet Bumi, kita menjadi sadar akan proses pernapasan: menarik dan mengembuskan napas. Bukan sebagai latihan fokus eksklusif pada napas, melainkan sebagai pengalaman napas sebagai bagian dari proses menyadari seluruh tubuh, sebagai sesuatu yang merupakan bagian dari pengalaman tubuh yang duduk di planet Bumi ini, sebagai bentuk praktik yang inklusif, alih-alih eksklusif.
And within this experience of the whole body, seated on the planet Earth, we become aware of the process of breathing: breathing in and breathing out. Not as an exercise in exclusive focus on the breath, but much rather as an experiencing of the breath as part of whole-body awareness, as something that is part of this experience of the body seated on the planet Earth, as an inclusive form of practice rather than exclusive.
Kita dapat mengamati proses pernapasan, dengan cara apa pun yang kita anggap bermanfaat atau biasa kita lakukan: di bawah lubang hidung, di atas bibir atas; di dalam lubang hidung; bagian belakang tenggorokan, dada; naik turunnya perut; tidak ada lokasi fisik tertentu. Cara yang benar itu adalah cara apa pun yang cocok untuk kita. Itulah cara yang benar.
And we may watch the process of breathing, in whatever way we find useful or we are accustomed to: below the nostrils above the upper lip; inside the nostrils; the back of the throat, chest; rise and fall of the abdomen; no particular physical location. It does not matter whatever works for us, that is the right way.
Menyadari pentingnya mengetahui mana yang merupakan tarikan dan embusan napas, menjadi sadar: napas bergerak masuk, dan bergerak keluar.
And giving importance to discerning inhalation and exhalation, to being aware: ‘the breath moves in, and moves out.
Dengan memahami bahwa apa yang kita hirup—oksigen—ini berasal dari Bumi. Tumbuhan yang hidup di permukaan Bumi: kita menghirup oksigen yang mereka hasilkan. Kita senantiasa bertukar dengan bumi melalui proses pernapasan ini. Tak terpisahkan, terhubung dengan Bumi.
In the understanding that what we breathe in the oxygen-this comes from the Earth. The plants that live on the surface of the Earth: we are breathing in the oxygen they produce. We are in constant exchange with the earth through this process of breathing. Inseparable, connected to the Earth.
Bersandar kokoh di Bumi, merasakan gravitasi itu, tarikan gravitasi itu, dan pertukaran yang terus-menerus melalui proses pernapasan, kita menyadari betapa kita merupakan bagian integral dari Bumi. Kita adalah bumi. Elemen bumi internal, eksternal: sama saja, tak ada perbedaan substansial. Kita menyatu dengan Bumi.
Firmly seated on the Earth, sensing that gravity, that pull of gravity, and that constant exchange through the process of breathing, we realise how much we are integral part of the Earth. We are earth. Internal, external earth element: just the same, no substantial difference. We are one with the Earth.
Kesinambungan dari proses menyadari keseluruhan tubuh dan mengenali tarikan dan embusan napas membantu menstabilkan pikiran. Namun demikian, cepat atau lambat, pikiran pasti akan mengembara. Setiap kali kita menyadari bahwa pikiran telah teralihkan, sambil tersenyum kita menyadari, “Lihat, pikiran telah mengembara.” Tanpa jejak kebencian, frustrasi, negativitas. Itulah sifat alami pikiran. Ia terus mengembara. Ingin pergi ke sana kemari, tak meminta izin terlebih dahulu.
And the continuity of whole-body awareness and the knowing of inhalations and exhalations help to stabilise the mind. Nevertheless, sooner or later, mind is bound to wander. Whenever we notice that the mind has become distracted, smilingly we recognise: ‘Oh look, mind has wandered away. Without a trace of aversion, frustration, negativity. That is just the nature of the mind. It keeps wandering. Wanting to go here, there, without asking our permission.
Namun di sinilah kita kembali pada momen saat ini. Dan kita memutuskan apakah cukup—hanya pengenalan secara singkat ini—untuk kemudian melanjutkan praktik: menyadari keseluruhan tubuh, duduk di atas bumi, gravitasi, napas.
But here we are back in the present moment. And we decide whether it is enough-just this brief recognition-to continue with the practice: whole-body awareness, seated on the earth, gravity, breath.
Atau apakah pikiran butuh lebih daripada itu untuk perlahan-lahan menjadi tenang. Kita lakukan pemindaian sekali lagi. Dimulai dengan kepala, lalu leher, satu bahu, lengan atas, lengan bawah, tangan. Bahu lainnya, lengan atas, lengan bawah, tangan. Tubuh bagian atas, tubuh bagian bawah. Satu pinggul, paha atas, paha bawah. Kaki. Pinggul lainnya, paha atas, paha bawah, kaki. Bahkan berulang kali, perlahan, cepat. Apa pun yang dirasa tepat untuk membantu pikiran tenang, menjadi tenang dan hening.
Or whether the mind requires something more to do for it to settle gradually into calmness. We do another scan. Starting with the head, then the neck, one shoulder, upper arm, lower arm, hand. Other shoulder, upper arm, lower arm, hand. Upper torso, lower torso. One hip, upper leg, lower leg. feet. Other hip, upper leg, lower leg, feet. Even repeatedly, Slowly, fast. Whatever seems appropriate in order to help the mind to settle, to become calm and quiet.
Pemindaian ini sangat membantu untuk itu, karena kita segera menyadari ketika pikiran melayang. Kita mungkin mulai… kepala, leher… dan tiba-tiba kita menyadari, “Oh, aku di kaki! Ada yang kelewat di sini.” Kita segera menjadi sadar ketika pikiran teralihkan.
The scan is so helpful for that, as we immediately notice when the mind wanders off. We start maybe… head, neck… and suddenly we find: “Oh, I am at the feet! Something missing here. Quickly we notice when the mind gets distracted.
Pemindaian memberi pikiran sesuatu untuk dilakukan. Ketika pikiran bersemangat, gelisah, kita tidak bisa begitu saja menenangkannya dengan paksa. Bekerjalah dengannya secara cerdas. Demikian pula, ketika pikiran tumpul, bekerjalah dengannya secara cerdas, berikanlah sesuatu padanya untuk dikerjakan.
And the scanning gives the mind something to do. When the mind is excited, agitated, one cannot just quieten it by force. Working with it intelligently. Similarly, when the mind is dull, working with it intelligently, give it something to do.
Dan sadar-penuh ada di sana, memperhatikan. Memantau agar pemindaian itu tidak menjadi terlalu tegang, agar kita masuk ke mode autopilot. Menyempurnakan praktik. Berada bersama momen saat ini sebagaimana adanya dan menyesuaikan praktik di mana perlu.
And mindfulness is there watching. Watching that that scanning does not become too much, that we go Into autopilot mode. Fine-tuning the practice. Being with the present moment as it is and adjusting the practice accordingly.
Pemindaian tubuh? Mungkin lebih banyak refleksi tentang keterkaitan dan ketergantungan kita pada elemen bumi? Hanya duduk, merasakan kekokohan itu, rasa gravitasi itu? Berada bersama napas—menghirup, mengembuskan—hanya mengalaminya. Atau menyertainya dengan refleksi dan kesadaran yang jernih tentang bagaimana tumbuhan di permukaan Bumi ini menghasilkan oksigen, dan kita dapat bernapas. Pertukaran yang konstan itu. Apa pun yang membantu kita memastikan kesinambungan praktik dan menjadikannya sebagai pengalaman pribadi yang langsung. Betapa kita terhubung dengan bumi. Betapa kita menyatu dengan bumi. Betapa kita tak bisa hidup tanpa bumi. Betapa kita bergantung pada bumi.
Body scan? Maybe some more reflection on our interconnectedness and dependency on the element earth? Just sitting, sensing that solidity, that sense of gravity? Being with the breath-inhalation, exhalation-just experiencing it. Or else accompanying it with some reflection and the clear awareness of how these plants on the surface of the Earth produce oxygen, and we can breathe. That constant exchange. Whatever helps us to ensure continuity of practice and to make it a matter of direct personal experience. How much we belong to the earth. How much we are one with the earth. How much we cannot be without the earth. How much we rely on the earth.
Seiring kita terus berlatih dengan cara ini, kita menyadari bahwa gagasan tentang tubuh ini sebagai aku dan milikku, sesuatu yang kumiliki, yang kukendalikan sepenuhnya, sungguh tidak realistis.
And as we keep practising in this way, we come to realise that this idea of this body being me and mine, something that I own, that I have complete control over, is quite unrealistic.
Sebaliknya, persepsi yang kita kembangkan sekarang, bahwa tubuh ini hanyalah elemen bumi, dan bagian dari Bumi yang lebih luas, jauh lebih realistis. Inilah realitasnya.
Instead, the perception we are developing now, of this body being just earth element, and part of the greater Earth, this is much more realistic. This is the reality.
Dengan cara ini, dengan latihan meditasi ini, selain topik utama tentang keterkaitan kita dengan bumi, kita sudah mendapatkan firasat awal tentang kekosongan, tentang hakikat kosong tubuh ini.
In this way, with this meditation practice, in addition to the main topic of our interrelatedness with the earth, we already get a first inkling of emptiness, of the empty nature of this body.
